|
Waktu masih menunjukkan pukul 08.30 ketika Salam, siswa kelas II SMA Cendekia, tampak sibuk menyalin berkas di mejanya. Rutinitas seperti ini Salam jalani setiap hari sejak ia terpilih menjadi staf Koperasi Jasa Keuangan Siswa (KJKS) di SMA Alternatif Cendekia Desa Babakan, Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Sejak pagi Salam sudah melayani siswa yang menabung di koperasi. Kebetulan aktifitas belajar di kelas baru dimulai pukul 13.00 bergantian kelas dengan siswa SMP Cendekia yang masuk pagi. Aktifitas belajar yang dimulai siang hingga petang hari memberikan waktu yang cukup bagi Salam untuk mengoperasikan jasa koperasi. “Selain menjadi pengurus koperasi, saya juga aktif di OSIS menjadi ketua mading. Seminggu dua kali saya mendampingi adik-adik kelas belajar komputer. Walaupun jadwal padat, saya tetap senang karena pengalamanku bertambah,” kata Salam. Di kepengurusan koperasi ia diberi tugas menangani administrasi. Rasa menikmati padatnya kegiatan membuat Salam bersama empat temannya rela tidur di sekolah meski jarak antara rumah dan sekolah hanya 200 meter. Menjalani keseharian seorang diri dengan konsekuensi yang ada membuat Salam belajar hidup mandiri. Menggali Aspek Kemandirian Bagi siswa seperti Salam ikut berkecimpung di dunia koperasi merupakan kesempatan langka. Selain bisa mendapatkan penghasilan dari semangatnya membantu mengurus koperasi, ia juga bisa mengakses pengalaman yang sama sekali baru untuk ukuran kampungnya. “Uang penghasilan saya tabung. Rasanya senang sekali punya tabungan,” kata Salam penuh bangga. Satu tahapan budaya baru tampaknya sedang dijalani Salam. Sebagai informasi, kebiasaan menabung bukanlah sesuatu yang lumrah untuk warga Babakan. Jasa simpan pinjam yang dilakukan koperasi tidak hanya melayani siswa, para orangtua siswa pun diberi kesempatan yang sama. Semua siswa diwajibkan menabung di koperasi minimal 500 rupiah per hari. Untuk para guru program simpan dinamakan si Ganteng, dengan saldo awal 50 ribu rupiah. Sedangkan program untuk orangtua siswa dinamakan si Ramdan, diwajibkan menabung tiap minggu minimal lima ribu rupiah. Tabungan program si Ramdan hanya bisa diambil pada bulan Ramadan atau lebaran. Program ini bertujuan membantu orangtua siswa agar bisa merayakan lebaran secara layak. Aspek pemberdayaan rupanya tak luput dari sasaran kebijakan pengurus koperasi. Menurut Jimi, General Manager KJKS, Orangtua siswa bisa melakukan peminjaman dana asal dipergunakan untuk modal atau pengembangan usaha. “Selain orangtua siswa, khusus siswa SMA juga bisa meminjam dana, dengan syarat dana tersebut untuk membuka usaha,” kata Jimi menjelaskan.(badruzzaman) |