Jul
29
2010
Today
Sekelumit Asa di Tengah Perubahan Zaman PDF Cetak E-mail
Oleh Managemen Yasmin   
Senin, 15 Desember 2008 15:03

Zahra dan rekan-rekannya terlihat riang gembira, mereka berlari saling kejar-kejaran, bermain ayunan, dan ada juga yang sedang asik belajar mewarnai dan membaca Iqra’. Aktifitas ini terlihat setiap pagi hari Senin sampai Sabtu bahkan hari Minggu pun mereka tidak mau lepas dari kesenangan ini. Sering kali orang tua mereka harus menjemputnya karena anak-anak keasikan bermain dan belajar di tempat yang menyenangkan ini.

Itulah gambaran sehari-hari anak-anak PAUD dari Kp. Sasak Limo Depok yang belajar di Al-Hikmah, sebuah sanggar yang didirikan oleh YASMIN dan Tunas Bangsa. Sarah, salah seorang koordinator, bercerita, kami menginginkan anak-anak disini tetap bahagia dan anak-anak ini tidak kehilangan masa emasnya, meskipun orang tua mereka adalah kelompok masyarakat yang termarginalkan secara ekonomi.

Jika dilihat lebih dalam fasilitas fisik yang disediakan oleh relawan-relawan ini tidaklah terlalu istimewa jika dibandingkan dengan TK yang lain yang ada di wilayah tersebut. Hanya lapangan yang sempit, ayunan dan kemedi putar itupun sudah tidak bisa digunakan lagi karena memang kondisinya sudah rusak disana-sini. Tetapi, ada hal yang membuat berbeda, anak-anak disini dapat belajar komputer dan fasilitas perpustakaan dengan ribuan koleksi buku untuk anak.

Selain dari itu, ada sebuah prinsip yang dipegang oleh para aktivis dan relawan Al-Hikmah, semua anak-anak adalah juara dan pendekatan pembelajaran yang mengedepankan konsep kontekstual learning. Bahasa yang digunakan pun sekali waktu disisipkan bahasa inggris sebagai pengantarnya.

Sarah menambahkan bahwa setiap aktivis PAUD yang bergabung, telah melalui proses pemagangan di sebuah sekolah elit di bilangan Cinere yaitu Sekolah Lazuardi Global Islamic School, yang memang telah menjadi partner dalam mendampingi PAUD Al-Hikmah selama kurang lebih 3 tahun kebalakang.

Ironis, meskipun dengan konsep yang luar biasa dalam sebuah pendidikan PAUD dan juga fasilitas multimedianya, tetapi sekolah ini tetap mengusung sekolah yang bebas biaya. Ditengah-tengah hiruk pikuk dunia kapitalisme yang sedemikian menggurita ternyata masih ada sekelompok pemuda yang mau mempertahankan idealismenya, demi menyelamatkan generasi marginal yang sulit mengakses dunia pendidikan karena faktor ekonomi.

Sebenarnya, kami juga bergelut antara dua pilihan, tetap menjadi idealis tetapi kami sendiri juga akan tergerus atau kami lepas dan mengkuti arus, tetapi ratusan rekan-rekan kami dan generasi kami kalah bersaing dan menjadi genarasi yang terjajah terus, ungkap Sarah dengan nada yang agak berat.

Maklumlah, setelah ditelusuri memang penghasilan yang didapat tidaklah sebanding dengan tenaga dan pikiran yang dikeluarkan untuk pendampingan dan pemberdayaan ini. Sarah tidak sendirian, masih ada 8 aktivis yang setali tiga uang.

Kondisi ini memang bukanlah disengaja untuk dibuat miris, tetapi karena memang keterbatasan perolehan dana dari pihak pengelola yaitu YASMIN maupun Tunas Bangsa, imbuhnya lagi. Saat ini kami bersama-sama untuk mengeratkan ikat pinggang, tetapi kami yakin dan seyakin-yakinya, kalau suatu saat nanti pasti akan berubah dan akan menjadi lebih baik, tanpa kami harus mengorbankan anak-anak didik untuk dieksploitasi. Harapan kami dukungan dana maupun sarana dari donatur akan merubah semua itu, karena konsep kami sangat kuat, menguatkan lagi, semoga.(edi)


 

Terakhir Diupdate ( Rabu, 17 Desember 2008 00:45 )