Jul
29
2010
Today
Puasa Adalah Cinta PDF Cetak E-mail
Oleh Managemen Yasmin   
Sabtu, 29 Agustus 2009 08:58

Oleh: Haidar Bagir

PUASA adalah persoalan cinta. Cinta pada Allah, cinta pada sesama. Untuk yang pertama kita diingatkan pada dialog Allah dengan Musa a.s. “Wahai, Musa, mana ibadah mu buat-Ku?”

Ketika Musa kebingungan menjawab, karena dipikirnya semua ibadah yang dilaksanakannya adalah untuk Allah saja, dia pun menyerah dan meminta-Nya untuk memberitahunya.

Maka Allah pun menjawab: “Ibadahmu untuk-Ku adalah menyenangkan orang yang hancur-hatinya.” Ya, beribadah kepada Allah, memuja-Nya, adalah dengan mencintai sesama yang membutuhkan kita. Lalu, dengan itu, memastikan bahwa haknya untuk menjadi manusia yang bahagia tak lagi terampas darinya.


Kita jadi ingat pula kisah Abu bin ‘Azhim –atau Ibrahim ibn Ad-ham, si sufi Balkhi –ketika bermimpi bertemu malaikat yang membawa segulungan catatan. Saat Ibrahim bertanya, gerangan apa yang ada di catatan itu, malaikat menjawab : “Daftar Nama orang-orang yang mencintai Allah.”

Yang membuat Ibrahim nelangsa, dia tak dapati namanya di daftar itu. Hingga akhirnya, setengah putus asa dia meminta kepada si malaikat: “Kalau tak layak namaku ada di daftar orang yang mencintai Allah, setidaknya tempatkan namaku di daftar nama orang-orang yang mencintai manusia.”

Maka, ketika esok malamnya Ibrahim kembali bermimpi tentang malaikat yang membawa daftar orang-orang yang mencintai Allah itu, didapatinya kali ini –di baris paling bawah– namanya tercantum.

Mencintai Allah hanya mungkin melalui cinta kepada sesama manusia. Hingga Nabi sang Manusia Mulia dan Sempurna pun bersabda: “Barangsiapa mencintai yang di bumi, maka ia akan dicintai oleh Yang di langit.” Puasa, firman-Nya, adalah untuk menjadikan kita bertakwa dan untukmembuat kita memiliki kesadaran tanpa jeda bahwa kita selalu dalam pengawasan-Nya.

Bahwa kita harus menjaga diri agar tak pernah mengecewakan-Nya. Agar, karena kita takmenjauhi-Nya, Dia pun tak menjauhkan diri dari kita. Dan, menyimak ajaran-ajaran mulia Allah dan Nabinya, kita jadi tahu bahwa mendapatkan ridha-Nya paling mudah dicapai dengan mencintai makhluk-Nya. Dan menzalimi sesama adalah jalan pintas untuk mendapatkan kemurkaan-Nya.

Maka, puasa adalah bukan saja persoalan cinta Dia, tapi juga cinta manusia. Lewat puasa, kita diajarkan untuk tidak mengumbar nafsu dan sekadar menghabiskan waktu memuas-muasi diri kita. Puasa mengajarkan kita untuk menaklukkan dan memegang kekang kendali atas egoisme alias sikap-sikap mementingkan diri saja.

Bukan saja puasa harus menyadarkan kita bahwa tak boleh sekali-kali kita memuasi nafsu dengan cara melanggar syari’ahnya, bahkan untuk mendahulukan kepentingan sesama –yang lebih membutuhkan– ketimbang diri kita, memang, puasa melatih itsar .

Tapi puasa tak lantas terjerembab ke jebakan sosialisme ideologis nan profan semata. Tak berhenti pada manusia, puasa membawa kita kepada Allah. Ada semacam gerakan bolak-balik.

Manusia –dan jin– hanya dicipta untuk memuja-Nya, meraih ridha-Nya. Tapi, cinta dan ridha-Nya hanya bisa digapai lewat cinta manusia. Cinta kita pada manusia inilah yang, pada gilirannya membawa kita sampai pada terminal suluk (perjalanan spiritual) kita di dunia, kepada (tempat kembali) yang tak lain mabda’ (asal muasal alias sangkan paraning dumadi) kehidupan kita juga.

Puasa adalah satu siklus lengkap perjalanan takhalliy-tahalliy-tajalliy. Pengosongan diri dari sifat-sifat buruk, dan pada gilirannya memenuhinya dengan akhlak mulia, agar akhirnya Allah mengejawantah di dalamnya.

Digambarkan dengan cara lain, puasa adalah paket lengkap empat perjalanan (al-asfar alarba’ah) Shadra, Ada perjalanan dari alam ciptaan (al-khalq) kepada Allah (al-Haqq).

Kemudian perjalanan dalam al-Haqq itu sendiri. Kembali setelah itu ke alam ciptaan, tapi kali ini sudah bersama al-Haqq. Hingga akhirnya menjalankan misi profetik-reformatif di alam ciptaan bersama-Nya.

Puasa membuang semua beban syahwat tak terkendali yang selama ini menghalangi kita untuk terbang tinggi dalam perjalanan menembus selaksa tabir yang memisahkan kita dengan-Nya.

Tapi bukan kemudian bermewah-mewah mengumbar asyik-masyuk sendirian dengan-Nya. Bukan saja bukan itu yang diajarkan oleh agama dan puasa kita, sesungguhnya itu juga tak mungkin.

Lagi-lagi belajar dari Musa a.s., Allah hanya datang menemui kita bersama orang-orang yang hancur hatinya. Belum lupa kita dengan kebingungan Musa dan para pengikutnya ketika tak juga Dia datang ke gua tempat mereka menunggu, seperti yang dijanjikannya.

Tidak di hari pertama, tidak di hari kedua, dan tidak di hari ketiga. Ketika akhirnya Musa menagih janji, Allah pun memberitahunya. Bahwa di ketiga-tiga hari itu sesungguhnya Dia datang ke gua tempat Musa dan para pengikutnya menunggu. Tapi, kapan? Mana? Tak ada sama sekali peristiwa spektakular dan luar biasa, yang seharusnya menyertai kedatangan Zat yang begitu Dahsyat dan Agung-Perkasa.

Ya, dari Musa dan para pengikutnya, kita belajar bahwa Allah datang justru lewat orang-orang yang paling tidak kelihatan, paling telantar dan tak teperhatikan – lewat hamba-hamba, orang-orang papa, dan orang-orang yang terbuang.

Mari kita tambah shalat kita di bulan suci ini. Tapi ingat bahwa shalat kita tak diterima-Nya kecuali jika bersamanya kita mengurusi orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kita.

Mari kita perbanyak membaca al-Quran. Tapi baik kita ingat pula bahwa al-Quran menyatakan bahwa bumi-Nya ini hanya akan diwarisi oleh orang-orang yang saleh dan kaum tertindas (mustadh’afin). Agar jangan sampai, kita –kelak ketika lebaran tiba– merasa termasuk orang-orang yang menang (al-fa’izin). Padahal kalah karena kita, ketika berpuasa, tak selalu ingat untuk berada bersama orang-orang yang susah-sengsara, sementara mereka yang disusah-sengsarakan ini dijanjikan untuk pada akhirnya menjadi pemenang dalam percaturan kehidupan dunia ini.

Mari kita hiasai puasa kita dengan banyak amal shalih, bukan hanya yang secara kasat ata seolah memperkuat jembatan yang menghubungkan kita dengan-Nya, melainkan dengan menebarkan pandangan ke lingkungan sekitar kita, bersikap awas kepada penderitaan di sekeliling kita, kemudian melakukan apa saja yang kita bisa untuk meringankan semuanya.

Karena memang sesungguhnya, inilah jembatan yang paling kukuh yang bisa kita bangun menuju-Nya. Jembatan menuju terminal cinta-Nya, yang terbuat dari bahan cinta kita kepada sesama.

“Al-shawmu li wa ana ajzi bih—puasa itu untuk-Ku”, kata Allah, “dan aku yang mengganjarnya”. Dan sebagai ibadah untuk-Nya, itu haruslah berbentuk upaya-upaya konkret untuk menyenangkan orang-orang yang hancur hatinya. Puasa yang sekaligus bisa menyucikan kembali diri kita. Sesuai janji-Nya, lewat sabda Nabi Saw. yang selalu diulang-ulang menjelang bulan puasa, sehingga hampir-hampir jadi mantera :

Man shama Ramadhana imanan wa’htisaban, ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih. Yakni, puasa yang dilandasi keimanan dan pemasrahan segalanya (ihtisab) – bahkan ganjaran dan pahala – kepada-Nya, untuk-Nya. Puasa yang bisa menggugurkan dosa-dosa maksiat kepada Allah.

Hanya dengan begitu, puasa benar-benar menjadi peristiwa cinta, cinta kepada Allah, dan cinta kepada manusia. Puasa yang benar-benar bisa mengembalikan kita kepada fitrah – yang bersifat Ilahi –menyatu dengan Sumber kita. Yang benar-benar menjadikan kita termasuk ke dalam yang kembali (al-’a'idin) kepada-Nya. Wa bi ‘awnil-Lahi Ta’ala.

Dr. HAIDAR BAGIR,
Direktur Utama Penerbit Mizan dan Dosen Islamic Cultural Advanted Studies (ICAS) Jakarta

Terakhir Diupdate ( Senin, 07 September 2009 21:23 )