|
Oleh: Dr. Haidar Bagir (Ketua Badan Pembina Yasmin) Ada suatu rangkaian konsep yang sentral dalam keruhanian (tasawuf) Islam, yang amat tepat dalam menggambarkan prosesi ibadah puasa : baik latihan-latihan yang diajarkannya, akhlak mulia yang hendak ditanamkannya, maupun kedekatan spiritual dengan Allah Swt. yang dilahirkannya. Itulah takhalliy-tahalliy-tajalliy. Takhalliy berarti pengosongan, yakni pengosongan diri dari nafsu yang mendorong kita untuk berbuat buruk, yang bertentangan dengan fitrah suci kemanusiaan kita. Jelas sekali bahwa upaya menekan dan tak menuruti nafsu makan, minum, berhubungan suami-isteri serta berbagai hal lain yang dapat membatalkan puasa -- sejak terbit fajar hingga terbenamnya mata hari selama sebulan -- merupakan bentuk-bentuk takhalliy ini. Tapi, takhalliy yang lebih esensial adalah apa yang, oleh Imam Ghazali, disebut sebagai unsur puasanya orang-orang elite secara spiritual (khawwas). Yakni, pengosongan hati dari segenap gerak-gerik atau kecenderungan duniawi yang dapat menyesatkan kita. Tahalliy, yang merupakan tahap lebih lanjut, bermakna penghiasan diri dan hati kita dengan sifat-sifat dan perilaku mulia. Kiranya tahap ini tak mungkin dapat kita wujudkan sebelum kita lulus dari tahap takhalliy, yang akan membuat kita memiliki kendali sepenuhnya terhadap motif-motif dan perilaku kita, seperti difirmankan-Nya : ”Sesungguhnya Allah tak menciptakan dua hati dalam rongga dada manusia”. (QS. Al Ahzab: 4) Artinya, jika kita isi hati kita dengan segala sesuatu yang tak sejalan dengan penghambaan kita kepada-Nya, maka kesadaran akan Allah tak memiliki tempat di dalamnya. Dan sebaliknya. Pada dasarnya, tahap kedua ini merupakan tahap kembalinya kita kepada fitrah kemanusiaan kita yang suci, fitrah yang sejatinya secara ruhani bersifat Ilahi. Persis seperti firman-Nya : ”Demi jiwa dan penyempurnannya. Maka Ia ilhamkan kepadanya jalan keburukan dan ketakwaannya. Pasti bahagia sesiapa yang memelihara kesuciannya. Dan pasti sengsara sesiapa yang menodainya.” (QS. Asy Syam: 7-10) Nah, bersamaan dengan terwujudnya tujuan tahap kedua ini, masuklah kita ke dalam tahap terakhir atau tahap puncak perjalanan jiwa kita. Yakni tahap tajalliy, tahap terejawantahkan atau terwujudnya Tuhan di dalam hati manusia. Memang, sesungguhnya Tuhan selalu dalam keadaan siap ber-tajalliy dalam hati manusia, karena sesungguhnya hati adalah wadah yang menampung Tuhan, seperti terungkap dalam hadis qudsi : ”Alam semesta tak dapat menampung-Ku. Hanya hati seorang mukmin yang dapat menampung-Ku”. Adalah perilaku buruk kita yang menyebabkan hati kita kotor sehingga ia cenderung menghambat tajalliy Allah di dalam hati kita. Maka proses takhalliy yang diikuti dengan tahalliy dapat mengembalikan potensi atau fitrah hati kita sebagai wadah tajalliy Allah Swt. Kini menjadi jelas apa yang dimaksud dengan kesejalanan ibadah puasa dengan konsep takhalliy-tahalliy-takhalliy dalam keruhanian Islam sebagaimana disebutkan di awal tulisan ini. Dan dari situ menjadi jelas pulalah bahwa tujuan puncak ibadah puasa adalah tak kurang dari tajalliy-Nya Allah di dalam hati kita. Terjelmanya manusia Rabbani (manusia ketuhanan) yang bebas dari keburukan dan, sebagai gantinya, terpenuhinya jiwanya dengan kesadaran penuh dan permanen akan keberadaan Tuhan. Inilah makna sesungguhnya ketakwaan, yang memang merupakan tujuan puasa, sebagaimana difirmankan-Nya : ”Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana ia telah diwajibkan atas orang-orang terdahulu, agar kalian bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183) |