Jul
29
2010
Today
Madrasah yang Merana PDF Cetak E-mail
Oleh Managemen Yasmin   
Jumat, 21 November 2008 13:26

Sudah berjalan 14 bulan saya bersama teman-teman mendapatkan tugas kantor untuk mendampingi madrasah, saat ini yang kami sedang kerjakan ada sekitar 25 madrasah dan bulan ini nambah lagi ada kurang lebih 24 madrasah (tetapi diwilayah lain). Pada awalnya kami sangat optimis dengan program pendampingan ini. Karena pada dasarnya semua itu pasti dapat dirubah. Kami yakin betul karena konsep dan standar operasional pendampingan dan monitoringnya sangat kuat, sehingga tidak mungkin kami tidak dapat melakukannya.

Di awal-awal, kami melihat kondisi madarasah yang sangat beraneka ragam masalahnya, seperti sudah diketahui oleh masyarakat pada umumnya, madrasah adalah sekolah nomor 2, istilah kata, kalau masih bisa sekolah di SD atau SMP umum ngapain sekolah di MI atau MTs, buang energi, pasti tidak bermutu, itulah kira-kira pandangan masyoritas masyarakat kita.

Sebenarnya tidak salah juga masyarakat menilai seperti itu, pada dasarnya memang madarasah memiliki segudang masalah yang tampaknya untuk menyelesaikannya tidaklah segampang dan secepat kita minyembuhkan penyakit infeksi kita dengan meminum anti biotik.

Ada beberapa persoalan madrasah yang ada pada umunya, pertama, madrasah ini adalah lembaga yang sangat independen -jika dibanding dengan sekolah negeri dan umum- hampir 80 % madrasah didirikan atas inisiatif perorangan atau individu yang peduli pada pendidikan di masyarakat sekitar, maka wajarlah negara ini kurang peduli sama mereka, karena negara berfikir bahwa itukan sekolah kalian bukan sekolah gue, maka tidak jarang madrasah akhirnya kekurangan murid bahkan gedungnya habis dimakan rayap.

Kedua, karena dimiliki individu, maka turun temurunlah kekuasaan di madrasah -seperti kedinastian jaman awal-awal Islam-. Ini menjadi persoalan paling pelik dan paling susah diselesaikan, karena diantara para keturunan pendiri sekolah ini akan saling klaim dan berebut, maklum ini soal periuk nasi yang harus dibagi-bagi, apalagi sekarang ada istilah BOS (bantuan oparsional sekolah) atau BOP dan juga masih ada DAK dan lain lain.

Ketiga, minimnya guru yang berkualitas, bagaimana tidak, hampir rata-rata yang kami temui dilapangan madrasah hanya memiliki guru dengan kompetensi yang rendah, ada beberapa sarjana S1, tetapi lebih banyak yang hanya lulusan D2 atau bahkan hanya SMU saja. Khusus hal ini sebenarnya tidak perlu dirisaukan, karena ukuran kulaitas guru bukanlah dilihat dari aspek pendidikan formal saja. Karena hal ini dapat kami tutupi melalui pendampingan yang sedang berjalan, kami dampingi mereka sehingga mereka tanpa bersekolah formal pun dapat meningkatkan komptensinya dalam mengajar.

Yang terpentin dalam mengajar sebenarnya, bagaimana ketika guru masuk dalam kelas, anak menjadi tenang, senang sehingga mereka dapat menyerap dan memahami pelajaran tanpa harus ada pemaksaan dari guru, dengan kata lain, mereka dapat menemukan dari diri mereka sendiri.

Keempat, karena kemiskinan dan keterbelakangan orang tua murid di madrasah, membuat mereka berat mebayar uang bulanan,  wajar saja jika guru-guru di madrasah bergaji kecil. Penemuan kami dilapangan gaji guru rata adalah 300rb/ bulan, pertanyaan berikutnya bagaimana guru-guru ini harus hidup di Jakarta dengan penghasilan seperti itu. Ini adalah tugas berat dan besar buat kami untuk membantu mereka.

Terahir, ketidak PD-an guru dan madrasah ketika menatap perubahan, karena sudah sering permainkan oknum , serta stereotip yang kurang bagus untuk madrasah, membuat mereka semakin terpojokkan. Sering kali dijumpai dan mungkin ini sudah bukan barang baru lagi, di negeri ini jika ingin dapat bantuan dari negara maka mesti harus setor dulu ke oknum pejabat di daerahnya. Dan kebanyakan madarasah tidak dapat menolak, kalau mau dapat bantuan ya harus rela dipotong minimal. Gila, memang sudah tidak waras lagi negeri ini, sudah tau orang susah masih juga dikemplang.

Saat ini mereka sedang gagap menatap begitu pesatnya perkembangan pendidikan yang ada. Tetapi, sedikit orang atau lembaga yang peduli dengan mereka. Untuk sekolah negeri mungkin tidak begitu masalah, tetapi untuk madrasah swasta tentu ini menjadi hal yang sangat rumit. Untuk makan saja susah, apalagi harus berhadapan dengan perubahan jaman yang begitu cepat.

Kalau bukan kita sebagai seorang muslim, siapa lagi yang mau peduli dengan madrasah, padahal didalamnya banyak sekali anak-anak generasi muslim, yang mereka ini akan menjadi pewaris Islam akan datang. Jika, masalah madrasah tidak pernah teratasi, jangan keget jika 20 atau 30 tahun lagi, umat ini akan semakin terjajah, dan tidak ada lagi suara moral yang keluar dari mulut orang-orang muslim.

Terakhir Diupdate ( Selasa, 25 November 2008 10:42 )