Jul
29
2010
Today
Titik Terang itu di Raudlatul Jannah PDF Cetak E-mail
Oleh Managemen Yasmin   
Jumat, 19 Desember 2008 09:21

Tidak ada fasilitas yang wah maupun guru-guru dengan gaji tinggi, tetapi meski demikian saat ini MI Raudlatul Jannah termasuk madrasah yang sangat bagus, paling tidak dalam pandangan masyarakat sekitar Limo.

Seperti madrasah-madrasah swasta umumnya yang ada di Indonesia, dengan segala kekurangannya baik dalam segi fasilitas maupun kesejahteraan, mereka tetap eksis bahkan telah mampu memberikan servis yang ekselen bagi stake holdernya.

Setelah kami berkunjung ke madrasah tersebut, terlihat jelas betapa anak-anak masih terus bermain meskipun jam belajar madrasah telah usai. Ketika kami tanyakan kepada salah satu guru, Pak Muhyidin, ternyata memang siswa Raudlatul Jannah sangat kerasan bermain lama-lama di madrasah, mereka sangat antusias belajar di sini.

Bahkan, ketika kita tengok dalam kelas yang ada, ternyata tidak jauh beda, suara riuh rendah anak-anak yang sedang belajar dan bermain di kelas, dibarengi dengan ramainya warna warni display yang menarik membuat suasana semakin nyaman, terutama bagi anak-anak.

Mengelola Perbedaan

Rata-rata madrasah selalu menyisakan persoalan kepentingan, baik kelompok maupun keluarga. Ini patut dimaklumi karena hampir 97 % madrasah di negeri ini dimiliki oleh yayasan keluarga atau personal. Padahal madrasah sudah berjalan lebih dari 2 bahkan 3 generasi. Rebutan kekuasaan itu menjadi hal yang lumprah apalagi dengan kondisi ekonomi yang serba tidak menguntungkan saat ini.

Ketika ditanyakan tentang kunci sukses bagaimana membuat Raudlatul Jannah menjadi madrasah yang indah disambangi dan disenangi anak-anak, jawaban Bunda Acih –kepala madrasah- cukup sederhana, ’Kami kelola perbedaan diantara kami secara baik dengan selalu menjaga komunikasi dan melibatkan semuanya dalam pengambilan keputusan.’

Karena pada dasarnya semua orang itu butuh pengakuan dalam segala aspek. Ketika warga madrasah dilibatkan berarti pengakuan madrasah akan eksistensi mereka tetap masih ada. Terutama jika kita berbicara dengan orang tua pendahulu madrasah ini.

Ketika guru, manajemen, yayasan dan tokoh masyarakat terlibat, maka madrasah akan lebih mudah mengarahkan guru-guru dikelas dengan paradigma baru pendidikan yang ada. Mereka menjadi nyaman tidak terbebani mentalnya dengan persoalan perbedaan dan konflik. Maka yang terjadi guru-guru lebih rileks dan mudah berkreasi dengan pemahaman-pemahaman baru dalam dunia pendidikan. Maka, jika kita lihat dikelas, guru-guru Raudlatul jannah selalu memberikan servise yang memuaskan untuk anak-anak didiknya. PAKEM dan CTL selalu menjadi ciri utamanya.

Keterbukaan

Keterlibatan saja tidak cukup, karena jika hanya terlibat tanpa mengetahui keaadaan yang sesungguhnya akan menjadi sia-sia. Manusia bukanlah robot atau mesin yang melulu hanya terlibat dalam arti fisik belaka. Tetapi manusia lebih dari itu, mereka memliki perasaan dan naluri serta pemikiran yang super komplek. Solusi berikutnya adalah keterbukaan, untuk membuat komitmen dengan guru, masyarakat maupun dengan elemen lain, madrasah harus lebih transparan. Terutama soal manajemen keuangan.

Bahkan, di Raudlatul Jannah semua stakeholder dapat mengetahui program, maupun keuangan madrasah dalam tahun berjalan. Jadi, guru-guru dapat dengan mudahnya menerima gaji-nya sekian ratus ribu, karena mereka memang tahu bahwa uang yang ada di madrasah cuma sekian juta rupiah yang harus diterima, disamping keperluan-keperluan lain.

Ketika keterbukaan ini muncul maka sinergi antar warga madrasah juga akan semakin kuat. Sejak awal tahun 2000 Radlatul Jannah bekerjasama dengan masyarakat membentuk koperasi yang diharapkan nantinya sebagian SHU (Sisa Hasil Usaha) juga akan di share dengan madrasah.

Guru-guru menjadi sadar jika ingin pendapatan yang lebih tinggi maka, mereka mesti berkomitmen untuk kreatif dan selalu memberikan pelayanan terbaik bagi semua siswa yang ada. Maka wajar, jika guru-guru Raudlatul Jannah selalu perpegang teguh pada prinsip pembelajaran PAKEM di setiap kelas. Dan yang tak kalah penting mereka memanfaatkan media pembelajaran yang ada sekitar mereka.

Hasil sudah mulai terlihat. Tahun ajaran baru 2008/2009 untuk kelas satu prosentase anak-anak yang masuk di Raudlatul Jannah naik hampir 100 %. Dari sebalumnya sekitar 26 anak kini menajadi 48 anak, dan terkadang dibulan-bulan berjalan masih ada anak-anak yang pindah dari SD lain. Tentunya, ini akan berimbas kepada guru juga.

Harapan kita sebagai pendamping semoga perubahan ini terus terjadi dan yang tak kalah penting adalah menjaga konsisetensi dalam pelayanan dan komitmen.(edi)

Terakhir Diupdate ( Sabtu, 20 Desember 2008 08:22 )