Jul
29
2010
Today
Memberantas Buta Tulis Guru-guru Madrasah PDF Cetak E-mail
Oleh Managemen Yasmin   
Jumat, 02 Januari 2009 17:29

Budaya menulis bagi sebagian pendidik masih merupakan kegiatan yang asing, setidaknya untuk guru-guru madrasah. Banyak faktor yang mendasari keengganan para guru untuk memasukkan budaya menulis sebagai bagian aktifitas mereka. Tidak adanya informasi tentang bagaimana mudahnya membuat jurnal, membuat mereka beranggapan bahwa menulis itu sulit. Disamping itu, ketidakpercayaan diri untuk menuangkan ide dalam bentuk tulisan membuat kebiasaan menulis semakin dijauhi.

“Sampai saat ini membuat tulisan adalah hal sulit. Menerjemahkan ide ke dalam tulisan lebih sulit ketimbang kami sampaikan dalam bentuk verbal. Belum lagi komentar orang lain yang membuat kami tidak percaya diri. Dan kami berharap melalui kegiatan ini, kami bisa menjadi guru yang mampu menulis,” demikian ungkapan Abdul Hakim guru madrasah dari MI Al-Muhajiriyah yang disampaikan pada Pelatihan Kepenulisan untuk guru-guru madrasah Limo, Selasa (23/12), di Meeting Room RSSS Meruyung Limo Depok Jawa Barat.

Dalam pelatihan tersebut di hari pertama dan kedua peserta mendapat wawasan tentang dasar-dasar jurnalistik dan penulisan, menulis artikel, esai, feature dan tips menulis karya ilmiah populer kependidikan. Materi-materi tersebut disampaikan oleh Arfi D. Moenandaris dari majalah Teaching Guide. Dihari ketiga peserta disuguhi metode bagaimana guru mampu dan bisa menulis buku oleh Hernowo, seorang penulis buku best seller.

Setelah acara ini berakhir, ada kegairahan dan energi baru yang dirasakan peserta pelatihan untuk berkarya melalui tulisan. Dengan metode praktis yang sudah mereka kuasai, sepertinya mereka sudah bisa mendobrak dinding kesulitan menulis. (badz)

Terakhir Diupdate ( Rabu, 18 Februari 2009 11:12 )