Jul
29
2010
Today
Cerpen : Anak dari Seribu Pulau PDF Cetak E-mail
Oleh Managemen Yasmin   
Selasa, 13 Januari 2009 11:36

Oleh : Enang Rokajat Asura


Rumah panggung yang dikelilingi kebun itu, selalu membuatku damai. Aku sering duduk berlama-lama di balai, sekedar mengedarkan pandangan. Rumah itu selalu menyebarkan wangi kayu jati, semerbak mawar dan gemericik air yang senantiasa melambungkan angan-anganku. Angan-angan yang sangat abstrak sesungguhnya, karena tidak pernah aku merasa puas dari apa yang diangankan itu. Sepulang sekolah dulu, sering tak langsung pulang ke rumah melainkan mampir ke rumah itu. Ada saja alasan kenapa aku memerlukan mampir ke sana. Ibu Maesaroh dan pak Guru Mastur pemilik rumah itu, tak pernah melarangnya. Tapi hari ini aku tak mencium wangi kayu jati, selain aroma dukacita.

Aku duduk di balai-balai. Satu demi satu datang pria seusiaku dan dua orang tampaknya sedikit di bawah. Ada tujuh orang denganku yang kini duduk di balai-balai. Kami tak saling bicara. Bukan karena satu sama lain masih asing, tapi sepertinya kami sepakat saat itu tak perlu untuk bicara. Kupikir semua yang mengantarkan bapak ke pemakaman tadi adalah penduduk sini, karena bapak tak punya anak selain aku sebagai anak angkatnya. Juga bapak tak punya saudara, karena seluruh adik-adiknya telah mendahului meninggal dunia sebelum mereka berumah tangga. Tapi enam lelaki ini tentu bukan tetangga dekat. Aku pikir mereka adalah saudara jauh dari ibu.

Kami tetap tidak saling bicara. Mungkin kami sedang sama-sama berpikir, sebagai seorang yang asing satu sama lain, tidak merasa perlu untuk bicara dan saling mendengar. Saat kami duduk dan saling berdiam diri, emak berdiri di ambang pintu dan memberi isyarat menyuruhku masuk. Bu Mae mau bicara dengan kau, bisik emak. Aku mengangguk dan masuk ke kamar. Di sana aku menemukan bu Maesaroh duduk di atas ranjang dan wajahnya tetap tenang. Sebelah tangannya memegang tasbih, dan sebelah tangan yang lain memegang kitab kecil. Ketika aku masuk, ibu mengangguk, lalu menyimpan kitab di sebelahnya.
“Duduklah ! Kukira kamu tidak datang !”
“Saya terlambat, tapi masih sempat ikut berdo’a di makam tadi, Bu.”
“Syukurlah !”

Ibu menengadahkan kedua tangannya, berdo’a, lalu mengusap wajahnya yang teduh. Aku duduk di atas karpet yang digelar di kamar itu.
“Ada enam anak muda yang mengaku anak bapak. Mereka datang tadi pagi. Bagaimana ini ? Kok aku sendiri tidak pernah tahu. Barangkali kamu pernah dengar bapak bicara tentang istri-istri yang lain ?” kata ibu dengan suara tetap datar. Tak tersirat emosi. Aku sendiri heran, kenapa ibu bisa setenang itu. Padahal paling tidak ada dua hal yang semestinya menggoncang jiwanya, yaitu kematian bapak yang mendadak dan kehadiran enam lelaki asing itu. Aku kembali memikirkan tentang enam lelaki yang duduk-duduk di depan. Enam lelaki yang sama-sama tidak saling bicara. Pasti mereka yang ibu maksud. Soal tidak saling bicara bagiku tak jadi masalah, tapi bagaimana dengan pengakuan mereka itu ?

“Terakhir ketemu bapak lebaran kemarin, Bu, dan saat itu bapak tidak bicara tentang istri-istri yang lain. Mendengar bapak punya istri lain saja, baru sekarang dari ibu.” kataku sejujurnya karena memang tak pernah tahu bahwa bapak punya istri selain ibu. Aku masih ingat saat bapak bicara tentang ibu yang menyuruhnya nikah lagi hanya karena lama tak punya anak. Saat itu bapak cuma bicara, ibumu itu, Nang, memang keterlaluan. Masak bapak disuruh nikah lagi, hanya karena tak dikaruniai anak. Aku yakin bapak bicara sungguh-sungguh.

“Lalu anak dari siapa enam lelaki itu tadi ?”
“Mereka tidak bicara anak dari siapa, Bu ?”
“Itulah yang membuat aku mikir macam-macam, Nang. Selama ini aku tidak pernah semalampun kehilangan bapak, kecuali pada siang hari saat ngajar atau pergi ke kebun setelah,” Ibu menunduk seperti menyembunyikan sesuatu. Lalu aku melihat jari-jemarinya kembali meniti butir-butir biji tasbih. Bibirnya bergerak pelan. Mungkin melanjutkan wirid disela-sela bicara denganku. Kegemaran ibu dari dulu memang begitu, selalu wirid dimana dan kapanpun juga. Bahkan ketika kami sama-sama sedang bicara, tak pernah berhenti dari wirid. Kegemaran inilah, aku yakin, membuat ibu selalu tenang.

“Di sini saja duduknya, Hamsah, tokh kami tidak sedang bicara rahasia.” Ibu mendongak ke luar, mengajak emak untuk duduk di dalam kamar. Kulirik emak cuma mengangguk.
“Tidak usah, di sini juga sudah cukup, Ceuk !” bilang emak kemudian.
“Bagaimana kalau saya yang bicara pada mereka !” kataku akhirnya setelah ibu diam.
“Maksud kamu bagaimana ?”
“Ya, akan saya tanya kenapa mereka mengaku sebagai anak-anak almarhum bapak. Kalau memang benar …”
“Kalau benar bapakmu punya istri lagi, artinya ia telah mengkhianati aku, Nang. Kenapa dulu ketika aku suruh nikah lagi, ia menyuruhku istigfar. Tapi sudahlah, aku tak mau mikirin yang tidak pasti. Usul kamu juga baik. Tapi baik-baiklah kau bicara. Jangan emosi. Kalau benar mereka itu anak-anak bapak, artinya kan saudaramu juga.”
Aku mengangguk dan beringsut meninggalkan ibu. Luar biasa perempuan ini. Ditinggal suami bisa setenang itu. Setenang air telaga. Di atas balai-balai keenam lelaki yang mengaku anak-anak bapak itu, mulai terlibat obrolan. Ketika aku duduk kembali di antara mereka, seorang diantaranya meminta pendapat tentang apa yang sedang mereka obrolkan.

***

Hamid, Ma’ruf, Kustiana, Agustinus, Rokhmat dan Zamzam, nama keenam lelaki itu. Semuanya datang dari jauh. Aku sendiri yang memperkenalkan diri. Tapi anehnya mereka bicara seragam, setelah menyebut nama sendiri kemudian diikuti dengan kata-kata “anak bapak dari jauh”. Dari kang Hamid kutahu, ternyata mereka semua adalah anak-anak angkat bapak. Mereka dibiayai ketika sekolah, dilanjutkan ke SPG, dan sekarang semuanya jadi guru. Sekarang semuanya punya anak asuh, disamping mengurus anak sendiri. Persis sama seperti cerita hidupku sendiri. Terjawab sudah rasa penasaranku itu. Aku ingin segera memberitahu ibu, agar tidak terlalu lama menunggu dalam ketidakpastian.

Dulu ketika aku kelas empat SD, bapak adalah guru kelasku. Dalam seminggu aku selalu tidak masuk sekolah dua atau tiga hari. Bukan karena malas, tapi karena aku harus membantu emak mengantarkan sekarung kecil daun singkong muda ke pasar Dangdeur. Daun-daun singkong itu emak yang mengambilnya dari kebun sore hari. Kemudian dipilih yang benar-benar muda, lalu diikat masing-masing sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Untuk satu ikat kami menerima uang sepuluh perak. Dalam satu karung besar itu paling banyak berisi tigapuluh ikat, total uang yang bisa aku bawa pulang sebanyak tiga ratus perak. Sementara jarak dari rumah ke pasar sangat jauh apalagi harus ditempuh dengan jalan kaki seorang anak kecil sepertiku. Kalau aku pergi jam lima subuh, baru datang ke pasar jam tujuh, istirahat sebentar, setengah delapan aku pulang dan sampai di rumah jam sepuluh. Jelas aku tak bisa masuk sekolah.

Ketika diceritakan pada pak Mastur kenapa dalam seminggu aku selalu bolos sekolah, ia hanya manggut-manggut. Samasekali tidak marah. Suatu hari sepulang sekolah, aku dipanggil ke ruang guru. Aku berpikir pasti akan kena hukuman. Tapi ternyata tidak. Di ruang guru pak Mastur telah menunggu. Ketika aku berdiri di pintu dan mengucapkan salam, ia memberi isyarat agar aku masuk dan duduk di kursi jati depan mejanya. Aku selalu gugup ada di ruangan itu. Ruangan itu terasa angker, seperti ketika aku lewat kuburan saja. Ada beberapa meja di sana, di sudut ruangan ada gulungan atlas besar, alat-alat olahraga dan tengkorak buatan. Memandang yang terakhir itu membuatku selalu gemetaran.

Kamu nggak usah gugup, bapak tidak akan menghukum. Begini, Nang, bilang pada ibumu, mulai sekarang kamu tidak perlu bayar SPP, tidak perlu beli buku dan pensil, juga setiap awal tahun ajaran tak perlu beli seragam. Semua itu bapak yang akan menyediakan.”

Aku hanya melongo heran, seperti dalam mimpi. Apakah ada malaikat yang mengirim uang pada bapak sehingga begitu gampang mau menanggung segala kebutuhan sekolahku ? Aku tak bisa mengikuti jalan pikiran pak Mastur saat itu. Demikian pula saat aku ceritakan pada emak, beliau hanya menangis. Pasti emak akan bilang, kalau masih ada bapak semua itu tak akan terjadi. Dulu pernah berpikir, jangan-jangan pak Mastur akan berbuat seperti juru tulis Desa terhadap ceu Imas, ibunya Didin yang juga ditinggalkan suaminya. Katanya, pak Ulis sering memberi ini-itu pada Didin, lalu suatu hari kedapatan tidur bersama ceu Imas. Aku bergidik mengingat itu. Emak pasti tidak akan seperti ceu Imas. Aku juga berharap, kebaikan pak Mastur bukan seperti kebaikan juru tulis. Semalaman aku terus memikirkan masalah itu. Tapi tetap saja tidak menemukan jawaban yang pasti, kenapa pak Mastur mau membiayai sekolahku. Hanya saja suatu pagi, saat aku siap-siap akan mengantarkan sekarung daun singkong, emak melarangnya. Tugas kamu sekarang sekolah, biar emak saja yang ke pasar. Sejak saat itu aku tak pernah bolos sekolah lagi, sekalipun sebenarnya aku kehilangan kegembiraan yang lain yaitu saat menerima upah dari bandar untuk sekarung daun singkong itu.

Pak Mastur membiayai sekolahku tidak hanya di sekolah dasar, tapi juga di SMP dan SPG. Aku ingat benar kenapa masuk SPG. Selepas SMP saat itu, aku masuk ranking tiga besar di SMP Negeri Cicalengka. Bapak bilang begini:
“Lebih baik kamu lanjutkan ke SPG, supaya kamu jadi guru. Nanti kalau kamu ngajar, dimanapun, temukan anak-anak seperti kamu. Sisihkan sebagian penghasilan kamu untuk mereka.”
Ya, aku memang sekarang jadi guru. Aku juga telah menemukan anak-anak sepertiku untuk dibiayai sekolahnya. Satu anak di SMA, dua anak di SMP, dan satu anak di kelas lima SD, selain membiayai dua putra-putri kami sendiri. Aku juga istriku awalnya sering khawatir, jangan-jangan tak akan cukup dengan hanya mengandalkan gaji yang tidak seberapa itu. Tapi sampai hari ini justru selalu bersisa. Sekarang aku baru sadar, kekayaan pak Mastur itu memang bukan langsung menerima dari malaikat tapi ia telah membuat jalan ke sana.

Cerita akang, sama persis dengan saya. Hanya saya mulai dibiayai bapak ketika kelas dua SMP. Saat itu bapak mancing di kampung dan ketemu saya tidak sekolah. Bapak bertanya kenapa saya tidak sekolah.” Kustiana yang cerita. Kami mengangguk dan merasakan bagaimana sebuah skenario telah bapak rancang. Kami anak-anak dari tempat yang sangat berjauhan tapi tetap dekat dalam dekapan bapak. Baik Hamid, Ma’ruf, Kustiana, Agustinus, Rokhmat dan Zamzam tampaknya memang punya cerita yang sama sepertiku. Dibiayai sekolahnya, diarahkan ke sekolah guru dan sekarang kami mengajar. Hanya satu yang berbeda, bapak melakukan semua itu karena tidak punya anak, sedang kami rata-rata punya anak buah cinta kami sendiri.

***

“Aku tak pernah mengira, bapakmu seperti itu.” komentar ibu ketika kami bicara di ruang tengah dalam suasana haru. “Yang aku tahu, Ganang ini yang kami jadikan anak angkat, agar sekolahnya tetap lancar.”
Dulu pernah aku bicara dengan bapak, kenapa tidak mengadopsi seorang anak sejak bayi. Saat itu bapak hanya tersenyum.

Kami sepakat untuk tidak mengadopsi anak. Kami merasa yakin, ketika anak itu dewasa tetap bukan muhrim. Kalau kami mengambil anak perempuan, maka ketika ia dewasa akan jadi masalah denganku. Demikian pula sebaliknya, kalau laki-laki, masalah itu muncul pada ibumu. Kami tidak mau hanya gara-gara sayang pada anak, melupakan sesuatu yang menurut agama tidak benar.”

Kata orang mengambil anak itu untuk pancingan saja, Pak ! Seperti yang dilakukan Haji Sulaeman. Setelah mengadopsi anak, selang setahun ceu Haji hamil.” kataku berdalih.
“Kamu yakin itu, Nang ?”
“Ya, pak, paling tidak itu terjadi pada Haji Sulaeman, kang Satori, dan mungkin banyak lagi, Pak !”
“Aku justru khawatir. Taroh kata sekarang kita ngambil anak, dibesarkan dengan sayang, lalu ibumu itu mengandung, lahir seorang anak dari darah daging bapak sendiri. Apa yakin akan tetap menyayangi anak hasil adopsi itu ?”

Dulu aku tak bisa komentar. Sekarang baru paham kenapa bapak tidak mengadopsi anak, melainkan senang membiayai sekolah anak yang tidak mampu sepertiku dulu. Dengan begitu tidak ada hubungan istimewa selain saling tolong-menolong. Dengan cara itu bapak telah menyambungkan tangannya dengan tangan malaikat.

Dengan kang Hamid kami berseloroh. Kalau kita sekarang punya anak asuh enam orang, artinya bapak telah punya 42 orang anak. Andai saja dari anak-anak asuh kita itu, mereka punya lima anak asuh lagi kelak, sudah berapa sesungguhnya anak bapak.
“Mustahil kalau itu lahir dari rahim ibu.” kataku.
“Ya !” kang Hamid mengangguk. “Bapak memang luar biasa. Ia telah membuat anak dari seluruh pulau.”
Mendengar obrolan itu ibu tersenyum.

"Bapak tidak sehebat yang kalian kira.” kata ibu. “Jangan membesar-besarkan bapak, supaya tidak terlalu berat meninggalkan ibu sendiri dan dipaksa untuk berbuat seperti bapak. Kalaupun bapak telah berbuat baik, semua itu karena kami merasa akan sungguh malang bila kami mengulurkan sebuah tangan kosong kepada orang lain.”

Ibu masih tetap wirid dan tidak saling bicara lagi. Semua asyik dengan pikiran masing-masing. Aku terus berdecak kagum. Bapak punya anak di segala penjuru. Saat itulah aku kembali mencium bau kayu jati, semerbak mawar dan mendengar gemericik air lebih dari apa yang pernah aku rasakan selama ini.
***

Terakhir Diupdate ( Selasa, 13 Januari 2009 11:47 )