| Cerpen : Anak dari Seribu Pulau |
|
|
|
| Oleh Managemen Yasmin | |||
| Selasa, 13 Januari 2009 11:36 | |||
|
Aku duduk di balai-balai. Satu demi satu datang pria seusiaku dan dua orang tampaknya sedikit di bawah. Ada tujuh orang denganku yang kini duduk di balai-balai. Kami tak saling bicara. Bukan karena satu sama lain masih asing, tapi sepertinya kami sepakat saat itu tak perlu untuk bicara. Kupikir semua yang mengantarkan bapak ke pemakaman tadi adalah penduduk sini, karena bapak tak punya anak selain aku sebagai anak angkatnya. Juga bapak tak punya saudara, karena seluruh adik-adiknya telah mendahului meninggal dunia sebelum mereka berumah tangga. Tapi enam lelaki ini tentu bukan tetangga dekat. Aku pikir mereka adalah saudara jauh dari ibu. Kami tetap tidak saling bicara. Mungkin kami sedang sama-sama berpikir, sebagai seorang yang asing satu sama lain, tidak merasa perlu untuk bicara dan saling mendengar. Saat kami duduk dan saling berdiam diri, emak berdiri di ambang pintu dan memberi isyarat menyuruhku masuk. Bu Mae mau bicara dengan kau, bisik emak. Aku mengangguk dan masuk ke kamar. Di sana aku menemukan bu Maesaroh duduk di atas ranjang dan wajahnya tetap tenang. Sebelah tangannya memegang tasbih, dan sebelah tangan yang lain memegang kitab kecil. Ketika aku masuk, ibu mengangguk, lalu menyimpan kitab di sebelahnya. Ibu menengadahkan kedua tangannya, berdo’a, lalu mengusap wajahnya yang teduh. Aku duduk di atas karpet yang digelar di kamar itu. “Terakhir ketemu bapak lebaran kemarin, Bu, dan saat itu bapak tidak bicara tentang istri-istri yang lain. Mendengar bapak punya istri lain saja, baru sekarang dari ibu.” kataku sejujurnya karena memang tak pernah tahu bahwa bapak punya istri selain ibu. Aku masih ingat saat bapak bicara tentang ibu yang menyuruhnya nikah lagi hanya karena lama tak punya anak. Saat itu bapak cuma bicara, ibumu itu, Nang, memang keterlaluan. Masak bapak disuruh nikah lagi, hanya karena tak dikaruniai anak. Aku yakin bapak bicara sungguh-sungguh. “Lalu anak dari siapa enam lelaki itu tadi ?” “Di sini saja duduknya, Hamsah, tokh kami tidak sedang bicara rahasia.” Ibu mendongak ke luar, mengajak emak untuk duduk di dalam kamar. Kulirik emak cuma mengangguk. *** Hamid, Ma’ruf, Kustiana, Agustinus, Rokhmat dan Zamzam, nama keenam lelaki itu. Semuanya datang dari jauh. Aku sendiri yang memperkenalkan diri. Tapi anehnya mereka bicara seragam, setelah menyebut nama sendiri kemudian diikuti dengan kata-kata “anak bapak dari jauh”. Dari kang Hamid kutahu, ternyata mereka semua adalah anak-anak angkat bapak. Mereka dibiayai ketika sekolah, dilanjutkan ke SPG, dan sekarang semuanya jadi guru. Sekarang semuanya punya anak asuh, disamping mengurus anak sendiri. Persis sama seperti cerita hidupku sendiri. Terjawab sudah rasa penasaranku itu. Aku ingin segera memberitahu ibu, agar tidak terlalu lama menunggu dalam ketidakpastian. Dulu ketika aku kelas empat SD, bapak adalah guru kelasku. Dalam seminggu aku selalu tidak masuk sekolah dua atau tiga hari. Bukan karena malas, tapi karena aku harus membantu emak mengantarkan sekarung kecil daun singkong muda ke pasar Dangdeur. Daun-daun singkong itu emak yang mengambilnya dari kebun sore hari. Kemudian dipilih yang benar-benar muda, lalu diikat masing-masing sebesar pergelangan tangan orang dewasa. Untuk satu ikat kami menerima uang sepuluh perak. Dalam satu karung besar itu paling banyak berisi tigapuluh ikat, total uang yang bisa aku bawa pulang sebanyak tiga ratus perak. Sementara jarak dari rumah ke pasar sangat jauh apalagi harus ditempuh dengan jalan kaki seorang anak kecil sepertiku. Kalau aku pergi jam lima subuh, baru datang ke pasar jam tujuh, istirahat sebentar, setengah delapan aku pulang dan sampai di rumah jam sepuluh. Jelas aku tak bisa masuk sekolah. Ketika diceritakan pada pak Mastur kenapa dalam seminggu aku selalu bolos sekolah, ia hanya manggut-manggut. Samasekali tidak marah. Suatu hari sepulang sekolah, aku dipanggil ke ruang guru. Aku berpikir pasti akan kena hukuman. Tapi ternyata tidak. Di ruang guru pak Mastur telah menunggu. Ketika aku berdiri di pintu dan mengucapkan salam, ia memberi isyarat agar aku masuk dan duduk di kursi jati depan mejanya. Aku selalu gugup ada di ruangan itu. Ruangan itu terasa angker, seperti ketika aku lewat kuburan saja. Ada beberapa meja di sana, di sudut ruangan ada gulungan atlas besar, alat-alat olahraga dan tengkorak buatan. Memandang yang terakhir itu membuatku selalu gemetaran. Kamu nggak usah gugup, bapak tidak akan menghukum. Begini, Nang, bilang pada ibumu, mulai sekarang kamu tidak perlu bayar SPP, tidak perlu beli buku dan pensil, juga setiap awal tahun ajaran tak perlu beli seragam. Semua itu bapak yang akan menyediakan.” Aku hanya melongo heran, seperti dalam mimpi. Apakah ada malaikat yang mengirim uang pada bapak sehingga begitu gampang mau menanggung segala kebutuhan sekolahku ? Aku tak bisa mengikuti jalan pikiran pak Mastur saat itu. Demikian pula saat aku ceritakan pada emak, beliau hanya menangis. Pasti emak akan bilang, kalau masih ada bapak semua itu tak akan terjadi. Dulu pernah berpikir, jangan-jangan pak Mastur akan berbuat seperti juru tulis Desa terhadap ceu Imas, ibunya Didin yang juga ditinggalkan suaminya. Katanya, pak Ulis sering memberi ini-itu pada Didin, lalu suatu hari kedapatan tidur bersama ceu Imas. Aku bergidik mengingat itu. Emak pasti tidak akan seperti ceu Imas. Aku juga berharap, kebaikan pak Mastur bukan seperti kebaikan juru tulis. Semalaman aku terus memikirkan masalah itu. Tapi tetap saja tidak menemukan jawaban yang pasti, kenapa pak Mastur mau membiayai sekolahku. Hanya saja suatu pagi, saat aku siap-siap akan mengantarkan sekarung daun singkong, emak melarangnya. Tugas kamu sekarang sekolah, biar emak saja yang ke pasar. Sejak saat itu aku tak pernah bolos sekolah lagi, sekalipun sebenarnya aku kehilangan kegembiraan yang lain yaitu saat menerima upah dari bandar untuk sekarung daun singkong itu. Pak Mastur membiayai sekolahku tidak hanya di sekolah dasar, tapi juga di SMP dan SPG. Aku ingat benar kenapa masuk SPG. Selepas SMP saat itu, aku masuk ranking tiga besar di SMP Negeri Cicalengka. Bapak bilang begini: Cerita akang, sama persis dengan saya. Hanya saya mulai dibiayai bapak ketika kelas dua SMP. Saat itu bapak mancing di kampung dan ketemu saya tidak sekolah. Bapak bertanya kenapa saya tidak sekolah.” Kustiana yang cerita. Kami mengangguk dan merasakan bagaimana sebuah skenario telah bapak rancang. Kami anak-anak dari tempat yang sangat berjauhan tapi tetap dekat dalam dekapan bapak. Baik Hamid, Ma’ruf, Kustiana, Agustinus, Rokhmat dan Zamzam tampaknya memang punya cerita yang sama sepertiku. Dibiayai sekolahnya, diarahkan ke sekolah guru dan sekarang kami mengajar. Hanya satu yang berbeda, bapak melakukan semua itu karena tidak punya anak, sedang kami rata-rata punya anak buah cinta kami sendiri. *** “Aku tak pernah mengira, bapakmu seperti itu.” komentar ibu ketika kami bicara di ruang tengah dalam suasana haru. “Yang aku tahu, Ganang ini yang kami jadikan anak angkat, agar sekolahnya tetap lancar.” Kami sepakat untuk tidak mengadopsi anak. Kami merasa yakin, ketika anak itu dewasa tetap bukan muhrim. Kalau kami mengambil anak perempuan, maka ketika ia dewasa akan jadi masalah denganku. Demikian pula sebaliknya, kalau laki-laki, masalah itu muncul pada ibumu. Kami tidak mau hanya gara-gara sayang pada anak, melupakan sesuatu yang menurut agama tidak benar.” Kata orang mengambil anak itu untuk pancingan saja, Pak ! Seperti yang dilakukan Haji Sulaeman. Setelah mengadopsi anak, selang setahun ceu Haji hamil.” kataku berdalih. Dulu aku tak bisa komentar. Sekarang baru paham kenapa bapak tidak mengadopsi anak, melainkan senang membiayai sekolah anak yang tidak mampu sepertiku dulu. Dengan begitu tidak ada hubungan istimewa selain saling tolong-menolong. Dengan cara itu bapak telah menyambungkan tangannya dengan tangan malaikat. Dengan kang Hamid kami berseloroh. Kalau kita sekarang punya anak asuh enam orang, artinya bapak telah punya 42 orang anak. Andai saja dari anak-anak asuh kita itu, mereka punya lima anak asuh lagi kelak, sudah berapa sesungguhnya anak bapak. "Bapak tidak sehebat yang kalian kira.” kata ibu. “Jangan membesar-besarkan bapak, supaya tidak terlalu berat meninggalkan ibu sendiri dan dipaksa untuk berbuat seperti bapak. Kalaupun bapak telah berbuat baik, semua itu karena kami merasa akan sungguh malang bila kami mengulurkan sebuah tangan kosong kepada orang lain.” Ibu masih tetap wirid dan tidak saling bicara lagi. Semua asyik dengan pikiran masing-masing. Aku terus berdecak kagum. Bapak punya anak di segala penjuru. Saat itulah aku kembali mencium bau kayu jati, semerbak mawar dan mendengar gemericik air lebih dari apa yang pernah aku rasakan selama ini.
|
|||
| Terakhir Diupdate ( Selasa, 13 Januari 2009 11:47 ) |




Oleh : Enang Rokajat Asura








