Jul
29
2010
Today
Wajah yang Berubah PDF Cetak E-mail
Oleh Managemen Yasmin   
Jumat, 08 Mei 2009 14:02

Sudah puluhan madrasah yang mendapatkan workshop Yasmin, baik yang bekerjasama dengan LAPIS maupun dengan lembaga lain, terutama dalam persoalan metode pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan).

Kami masih ingat betul ketika awal mula datang sekedar berkunjung dan bercengkrama dengan rekan madrasah. Di sela-sela kedatangan, sesekali kami melirik kelas-kelas yang ada di sana. Tampak terasa saat itu, dua tahun yang lalu, kelas-kelas tampak rapi, seperti bis patas di jakarta atau kereta api eksekutif Gajayana yang seringkali mengnatarkan kami pulang kampung. Tampak kursi-kursi itu berjajar rapi kiri kanan, dua dua atau empat empat, tampak sangat alami.

Karena tak, kami berusaha masuk lebih dalam lagi dan kadang sampai duduk dengan anak-anak untuk belajar bersama dan menemani guru-guru dalam pembelajaran. Tampak disana anak-anak itu begitu luar biasa, kadang mereka tampak seperti sedang ikut koor nyanyian jaman orba yang serba serempak, dan anak-anak begitu terpukau dengan gurunya sehingga tangan-tangan mereka terpatri diatas meja. Begitu pula gurunya karena guratan beban yang begitu kuat, sehingga semua hari-hari dilewati tanpa variasi, mereka tetap setia dengan kitab suci buku paket dari pengambil kebijakan negeri ini.

Tetapi lambat laun cerita itu berganti, banyak madrasah yang sangat antusias menjalankan apa yang sama-sama kita pelajari tentang bagaimana hakikatnya anak-anak didik harus menjadi sentra dalam pembelajaran sehingga mereka menjadi kreatif. Tetapi ada juga madrasah yang juga merasa berat menjalan PAKEM karena mesti menyita banyak waktu. Rutinitas itu jauh lebih menyenangkan dari pada harus menyiapkan pembelajaran yang baik. Toh anak-anak juga bisa menerima.

Satu hal yang belum disadari oleh madrasah saat ini adalah pendidikan anak merupakan investasi jangka panjang. Hasil itu bisa dipetik ketika 15 atau 20 tahun yang akan datang. Kalau barang pabrikan salah masih ada garansinya, tetapi jika kita salah mendidik maka garansinya tidak ada. Anak itu tidak akan bisa dikembalikan seperti semula dan akan rusak, resikonya anak-anak akan menjadi generasi yang terbuang dan sisa. 

Syukurlah, meskipun terkesan tidak menyeluruh, akhir-akhir ini, setelah hampir satu tahun ditinggal, ketika kami berkunjung kelapangan sisa-sisa PAKEM masih jalan terus. Bahkan salah satu madrasah dampingan yang sadarnya paling belakang, justru lebih aktif menggunakan pendekatan PAKEM dalam pembelajaran. Senang sekali rasanya.

Bahkan ketika kami datang dan sit in dengan anak-anak madrasah, tak terasa air mata ini berlinang menyaksikan bagaimana guru-guru itu berusaha sekuat tenaga -meskipun kami tahu honor mereka sangat tidak sebanding dengan perjuanganya- menggunakan media pembelajaran yang tersedia dan variatif. Rasa haru dan bahagia itu tidak dapat kami sembunyikan. Paling tidak kami ingin membuktikan kepada masyarakat pendidik, bahwa jika mengira bahwa madrasah itu kolot dan tidak dapat berubah, itu salah.

Meskipun kami sadar perubahan itu tidak datang secara tiba-tiba, bahkan kami sudah melakukan pendekatan dengan mereka sudah hampir 5 tahun lebih. Dan kami yakin panen raya itu akan segera datang. Keyakinan itu kami tanamkan ketika kami menabur benih, dan menyiraminya dengan air kesejukan serta memberikan pupuk keikhlasan, pasti kami akan mendapatkan panen itu. Selamat tumbuh dan berkembang bagimu madrasah jangan berhenti, kami akan selalu menjadi air dan pupukmu! (edi slamet)

Terakhir Diupdate ( Jumat, 08 Mei 2009 14:13 )